Laman

Blog Archive

Friday, September 9, 2016

hati dan obatnya dalam tinjawan al,quran




HATI DAN OBATNYA DALAM TINJAUAN AL QUR’AN

Gambar

OBAT PENYAKIT HATI
DALAM
TINJAUAN AL QUR’AN DAN SUNNAH

Rosululloh Saw. adalah seorang nabi yang berhasil memberikan model  dakwah yang tuntas dalam segala aspeknya. Hal ini sesuai  degan kesempurnaan ajaran Islam  itu sendiri, di samping kedudukan Rosullloh Saw. sebagai penutup nabi. Dalam kehidupan sehari-hari beliau menempatkan diri sebagai teladan tertinggi , sebagai individu yang berakhlak mulia, sebagai pemimpin keluarga yang bijaksana, sebagai suami yang adil, sebagai pengajar dan pembina dalam dakwah, serta sebagai pemimpin politik dan militer yang tangguh.
Dalam perjuangan dakwah, Rosululloh berhasil menegakkan kalimat tauhid di masyarakat dalam tempo 23 tahun Dimulai dari seorang diri, hingga berkembang pada kita saat ini. Namun jika  tinjau, sebenarnya dimanakah kemenangan dakwah Rosullloh Saw?  Apakah kemenangan dalam Perang Badar, Fathul Makkah, dan lain-lainnya.
Sayyid Qutb menyatakan, bahwa titik-titik penting kemenangan beliau bukanlah pada kejadian-kejadian tersebut. Namun  justru tatakala  keimanan mulai bersemi   di dada para dai dan pengikutnya, keimanan yang mendalam dan lurus, itulah hakeket kemenangan.

A.   Dzikrullah
Obat hati yang pertama adalah dzikir kepada Allah Swt.
Sehubungan dengan urgensi dzikrullah bagi hati, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa dzikir bagi hati ibarat fungsi  air bagi ikan. Apa jadinya kalau ikan dikeluarkan dari air?
Oleh karenanya para aktivis dakwah tidak boleh melewatkan hari-hari, menit, bahkan detik-detik kehidupannya tanpa aktivitas dzikir.
Sesungguhnya dzikir mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi para aktivis dakwah untuk membentuk karakter diri yang dekat dengan Allah, selalu berlindung dan berserah diri secara total kepada-Nya, serta merasakan adanya pengawasan yang bersifat permanen dari-Nya.
Dengan dzikir, orang-orang arif bijaksana dapat menolak segala bentuk penyakit dan kerusakan, menyingkap segala kesulitan dan merasakan kemudahan dalam menerima segala musibah. Melalui dzikir, seseorang dapat  berkomunikasi dengan Allah setiap saat dalam segala keadaan, sambil berdiri, duduk dan berbaring. Sehingga dengan dzikir seseorang akan selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Allah hingga pelakunya masuk dalam kategori ihsan. Dengan demikian, ia beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan ia melihat-Nya. Juga mewariskan kepada pelakunya inabah dan dekat dengan-Nya. Kedekatan seorang hamba kepada Allah sesuai dengan kadar dzikir kepada-Nya. Begitu juga, jauhnya hamba dari Allah sesuai dengan kadar kelalaiannya dalam berdzikir kepada-Nya.
Ada tiga hal pokok yang diperlukan dalam mencapai keberhasilan dakwah, yakni hati yang bersih, soliditas struktur, program yang rapi dan berkesinambungan. Hati yang bersih merupakan modal utama bagi para pelaku dakwah. Tanpa ini, tak mungkin tercapai kemenanagn hakiki dalam dakwah.
Di dalam hati yang bersih inilah keimanan bisa ditumbuhkan dengan kukuh. Oleh karenanya diperlukan obat yang akan membersihkan hati dari berbagai macam penyakit yang pasti merusak hati, dan pada saat yang sama obat tersebut akan mengarahkan suasana hati selalu dalam kondisi bersih dan suci untuk bisa melaksanakan tugas yang suci pula.
Ketaatan merupakan kelaziman untuk membuat hati hidup, seperti lazimnya makan dan minum untuk membuat kita tetap hidup. Sebaliknya kemaksiatan bisa disamakan dengan makanan beracun yang akan merusak hati. Maka seluruh ketaatan adalah mutlak bagi  hidupnya hati.  Di sini kita akan membahas beberapa diantaranya, mengingat urgensinya. Yaitu:       dzikrullah, tilawah al-Qur’an, istighfar, do’a dan qiyamul lail.

Manfaat dzikir:

  • Dzikir adalah makanan pokok bagi hati. Apabila hati kehilangannya, ia seperti tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokok.
  • Dzikir dapat mengusir syetan dan menundukkannya.
Dari abu Hurairah ra, rosululloh bersabda:
” Barangsiapa membaca la ilaha ilallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kuli syai’in qadir  seratus kali,  maka nilainya sama dengan memerdekakan sepuluh budak, dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus dari  seratus dosa, dan dijaga dari gangguan syetan pada pagi harinya hingga sore harinya. Tidaklah seseorang datang membawa sesuatu yang lebih utama dari apa yang dibawanya, kecuali seseorang yang mengerjakan lebih banyak dari itu”.

  • Dzikir merupakan obat bagi kerasnya hati.
Seseorang menemui Hasan al Bashri berkata, ”Aku adukan kepada anda tentang kerasnya hati ini.”
Hasan al Bashri menjawab, ”Lunakkan ia dengan dzikir!”

  • Dzikir menyebabkan pelakunya diingat Allah Swt, sebagaimana firmannya:  ”….maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”( Al Baqarah 152).
  • dzikir dapat menghapus dan menghilangkan dosa, karena ia termasuk bentuk kebaikan yang besar.
Sementara, kebaikan itu bisa menghilangkan dosa, sabda Nabi Saw ”Siapa yang setiap hari dan malam membaca subhanallah wa bi hamdihi seratus kali, maka terhapuslah dosa-dosanya, meskipun dosa-dosanya itu sepeti buih di laut” (HR. Bukhari, Muslim & Malik).
  • Dzikir merupakan penyebab turunnnya rahmat dan ketenangan, sebagaimanan sabda Nabi:
”Tidaklah suatu kelompok manusia berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan mengkajinya  di antara mereka, melainkan turunlah atas mereka ketenangan, terlindungi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan mereka disebut-sebut Allah dihadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim & Tirmidzi).
  • Dzikir merupakan tanaman syurga.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Jabir dari Nabi Saw:
”Siapa yang membaca Subhanallah  al-’azhim wa bihamdihi, berarti ia telah menanam sebuah pohon di syurga”


 B.   Tilawah Al-Qur’an
Salah satu obat hati  yang tak diragukan lagi keefektifannya adalah membaca dan menghapal Al-Qur’an. Bahkan dzikir yang paling utama ialah membaca Al-Qur’an, karena ia mencakup semua pengobatan  penyakit hati. Para aktivis dakwah sudah seharusnya dekat dan akrab dengan Al-Qur’an. Dia dapat dibaca sebagai hiburan dan pembersih hati, di hapal, di fahami maknanya dan kemudian dilaksanakan kandungannya.
Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt,  ”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al Isra’: 82).
Dan firman-Nya: ”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada” (Yunus: 57).

Penyakit itu pada dasarnya bersumber dari dua hal;
Syubuhat (ketidak jelasan akan kebenaran)
Syahawat (hawa nafsu)
Dan Al Qur’an adalah obat kedua penyakit hati ini.
Al Qur’an mengandung keterangan dan penjelasan yang tegas tentang kebenaran dan kebatilan. Maka hilanglah penyakit ketidak jelasan dan digantikan dengan ilmu, tashawwur dan pengetahuan serta terlihatnyasesuatu dengan semestinya. Sehingga dengan hati yang menyertainya ia mampu membedakan kebenaran dan kebathilan seperti ia mampu membedakan antara siang dan malam.
Al Qur’an juga mengandung hikmah dan pelajaran yang baik sebagai penawar bagi penyakit syahwat. Yaitu nasehat agar hidup zuhud di dunia dan mengutamakan akherat

C.   Istighfar
Obat penyakit hati selanjutnya adalah istighfar, atau permohonan ampun kepada Allah. Istighfar ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengenali kesalahan, dosa dan kemaksiatan yang telah ia lakukan, untuk kemudian muncul perasaan menyesal dan tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama yang telah ia lakukan. Kepekaan seseorang dalam mengenali kondisi hatinya inilah yang akan membuatnya selalu berhati-hati untuk senantiasa menjaga kesehatannya, jika suatu saat ia mendapatinya dalam kondisi sakit niscaya ia akan bersegera untuk memohon ampunan kepada Allah  sebagai sebuah usaha ikhtari untuk mengobatinya agar bisa sehat kembali.
Allah Swt berfirman:
”Dan beristighfarlah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Muzamil: 20).
Aisyah r.a berkata, ”Beruntunglah orang yang mendapati catatan amalnya di penuhi dengan istighfar.”
Ali r.a berkata, ”Tidaklah Allah Ta’ala berkehendak menyiksa seseorang yang senantiasa diilhami istighfar”.
Qatadah berkata, ”Sesungguhnya Al Qur’an telah menunjukkan kepada kita tentang penyakit  dan penawarnya. Adapun penyakit itu adalah dosa, sedangkan penawarnya adalah istighfar”.
Bagi aktivis dakwah, istighfar bukan saja bermakna penghapusan dosa dan pembersihan hati, akan tetapi juga sarana penguatan moralitas (akhlak). Semuanya akan berpengaruh pada kekuatan gerak dakwah. Hal yang naif, bila para aktivis dakwah merasa aman terhindar diri dari segala dosa hingga amat jarang melakukan istighfar. Bukankah Rosululloh Saw bertobat dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali?

D.   Do’a
Obat penyakit hati yang keempat adalah do’a.
Do’a merupakan sarana penyembuh penyakit hati yang paling indah. Dengan berdo’a seseorang akan menghadap kepada Tuhannya untuk merapikan kekacauan hatinya dan menghilangkan sifat liar, sedih dan letih yang ada di dalamnya. Bahkan dalam sebuah hadits Rosululloh mengekspresikan ibadah dengan do’a,
”(Sesungguhnya) do’a adalah ibadah” (HR. Abu Dawud  dan Tirmidzi).  Dengan berdo’a seseorang mampu menumbuhkan perasaan menghamba,  merasa fakir, menampakkkan kelemahan dan butuh kepada Allah ketika menadahkan tangan untuk memohon. Dengan berdo’a berarti menundukkan diri kepada Dzat  Yang Mahakuasa mendatangkan semua bentuk kemanfaatan dan menolak semua bentuk kemudharatan. Karenanya Allah mengaitkan orang yang tidak mau berdo’a dengan orang yang sombong,   ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Ghafir: 60).
 Orang yang melalui hari, berjumpa minggu dan bertemu bulan tanpa pernah berdo’a maka dengan tindakannya ini dia telah menjadi orang yang sombong. Bagi para aktivis dakwah, tidak layak menggantungkan diri kepada kemampuan manajerial dan strategi mereka semata. Sebab keberhasilan itu datang dari Allah Ta’ala semata. Dan untuk mencapai itu dibutuhkan sarana, yaitu doa. Tanpa doa hanya akan menjauhkan diri dari Allah dan dari  keberhasilan yang sesungguhnya, bahkan akan memasukkan kita kedalam  golongan orang-orang sombong yang di murkai Allah.

Adab Berdo’a

  • Optimis, mantap dan yakin bahwa do’anya pasti terkabul.
Nabi Saw bersabbda:
”Jaganlah seorang kamu berkata apabila berdo’a ’Ya Alla, ampuni dosaku jika Engkau menghendaki. Ya Allah kasihanilah aku jika Engkau menghendaki’.  ”Tetapi hendaklah ia mantap dan yakin karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa memaksaNya”. (HR. Bukhari & Muslim).
Sufyan bin Unayah berkata, ”Janganlah kalian enggan berdo’a gara-gara kelemahan diri, sebab Allah Azza wa Jalla telah mengabulkan permohonan (do’a) sejelek-jelek makhluk –Nya, yaitu Iblis—semoga Allah melaknatnya—ketika iblis berdo’a,”Wahai Tuhanku, tangguhkan (umur)ku sampai hari mereka dibangkitkan” (Al Hijr: 36).

  • Serius dan mengulang-ulang sebanyak tiga kali.
Ibnu Mas’ud berkata:
”Apabila Rosululloh Saw berdo’a, beliau biasa mengulang do’anya hingga tiga kali. Apabila beliau memohon, maka beliau memohon hingga tiga kali” (HR. abu Dawud).
  • Bersabar atau tidak tergesa-gesa berharap untuk di kabulkan
Dalam Hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa Rosululloh Saw bersabda, ”Akan dikabulkan do’a seseorang di antara kamu selama ia tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan dengan mengatakan, ’saya telah berdo’a, tetapi do’a saya belum dikabulkan’ (HR. Bukhari & Muslim).

  • memilih waktu-waktu yang mulia(makbul), seperti hari Arafah, bulan Romadhon, hari Jum’at dan waktu sahur. Nabi Saw bersabda:
”Pada setiap malam Alllah Ta’ala turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir yang tersisa, seraya Dia berfirman, ”Siapakah yang berdo’a kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan do’anya; siapakah yang memohon kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan permohonananya; dan siapakah yang meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Kuampuni dosa-dosanya” (HR. Bukhari & Muslim).

  • Memanfaatkan situasi-situasi yang mulia atau yang baik, seperti ketika berperang di jalan Allah sedang berkecambuk, atau ketika turun hujan. Allah Ta’ala berfirman:
”Dan  Dialah Yang menurunkan hujan —sesudah mereka berputus asa—dan menyebarkan rahmat-Nya” (Asy Syura: 28).

  • Merendahkan suara antara keras dan lirih; merendahkan diri dan menampakkan bahwa dirinya benar-benar butuh sekali(kepada pengabulan do’a). Allah Swt berfirman:
”Dan janganlah kamu nengeraskan suaramu dalam sholat, dan janganlah pula merendahkannya” (Al  Isra’: 110).

  • Memulai do’a dengan memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, kemudian bershalawat kepada nabi-Nya dan ditutup dengan hamdalah. Sabda Nabi Saw:
”Apabila seseorang diantara kamu mengerjakan shalat, maka hendaklah ia memulai dengan memuji Rabb-Nya Azza wa jalla dan menyanjung-Nya. Kemudian berselawat kepada Nabi Saw. Setelah itu silahkan berdo’a sesuai kehendaknya” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Nas’i).

  • Mengkonsumsi makanan yang halal dan sehat sesuai dengan sabda Nabi:
”Sesungguhnya Allah Mahabaik. Dia tidak menerima selain yang baik, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada Rosul, seraya Dia berfirman, ”Wahai para Rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal-amal yang saleh” (Al Mukminun: 51).

E.   Qiyamul lail
Inilah sarana tazkiyah yang harus dilakukan oleh para aktivis dakwah. Bangun malam dan melaksanakan shalat tahajud akan membersihkan hati dan jiwa dari berbagai macam kotoran/penyakit. Kebersihan hati akan berdampak pada ketenangan jiwa dan bersihnya pikiran, sehingga dakwah akan bisa dilaksanakan secara optimal dan hasilnya bisa diharapkan. Rosul Saw dan para sahabat menjadikan qiyamulail sebagai sarana tazkiyah yang menjadi pondasi bagi kebaikan amal dan langkah dakwah mereka.  Sabda Nabi Saw:
”Seutama-utamanya puasa sesudah puasa Romadhon ialah puasa sunah pada bulan Muharram: seutama-utamanya shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunah di waktu malam” (HR. Muslim).
Bahkan jika dilihat dari ayat-ayat yang turun di Makkah, ternyata qiyamulail di letakkan pada posisi utama. Al Muzamil adalah surat ketiga yang turun, setelah Al Alaq dan Al Mudatsir. Di dalamnya ada perintah yang amat tegas untuk menegakkan shalat malam sebagai persiapan ruhiyah menghadapi realitas medan dakwah. Allah Swt berfirman:
”Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua sedikit atau lebih dari seperdua itu” (Al Muzamil: 1-3).
Dengan turunnya ayat ini, shalat malam hukumnya wajib bagi kaum muslimin saat itu. Dan teryata qiyamulail menjadi bekalan yang membentuk sahabat menjadi pribadi-pribadi tangguh yang akan menghadapi segala resiko  dakwah. Allah Swt menyebutkan dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat (qaulan tsaqilan)” (Al Muzamil: 5), yang menunjukkan tugas-tugas berat  mendatang harus di hadapi dengan persiapan matang.
Dalam kehidupan keseharian, tentu kita bisa menyaksikan betapa banyaknya permasalahan yang dihadapi manusia hingga ada diantara mereka yang sampai stres, depresi dan tekanan batin lainnya. Sebenarnya, terapi penyakit tersebut sangat mudah dan bisa dikerjakan oleh siapapun. Lakukan shalat malam secara teratur, dan adakan dialog dengan Allah Ta’ala tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi, serta mintalah jalan keluar kepada-Nya. Jadi, qiyamulai merupakan kebutuhan  yang akan menghidupkan kesadaran ruhiyah kita untuk mengontrol gerakan-gerakan tubuh, perkataan akan menjadi berbobot sehingga lebih mudah difahami dan diresapi oleh mad’u serta stabilitas moral dan emosional pun akan lebih terjaga. Bahkan Allah menjanjikan terkabulnya do’a yang di munajatkan saat-saat hening malam.

Keutamaan Qiyamulail

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

‘Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”
(As-Sajdah: 16)

Kemudian diikuti dengan firman-nya,
”Seorang pun tidak  mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
(As-Sajdah: 17)
Allah Ta’ala berfirman dalam menggambarkan orang-orang yang berbuat kebaikan,
”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu-waktu sahur (akhir-akhir malam) mereka memohon ampunan (kepada Allah)”
(Adz-Dzariyat: 17-18)
Telah diriwayatkan dari Qatadah, Mujahid, dan lainnya bahwa maksud ayat di atas ialah ”mereka biasa tidak tidur di malam hari hingga datang waktu shubuh.”
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., ia berpendapat, ”Maksud ayat di atas ialah tidaklah malam itu melewati mereka, melainkan mereka menggunakan sebagian malam itu untuk beribadah kepada allah.”
Allah Ta’ala berfirman,
”Apakah kamu, hai orang musyrik , yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”
(Az-Zumar: 9)
Syaikhul Islam, Ibnu Tamiyah berpendapat, ”Kata al-qunut itu berarti menjalankan ketaatan secara terus-menerus. Apabila seseorang shalat, berdiri,rukuk,dan sujudnya lama, maka ia dinamakan qanitun.”
Allah Azza wa Jalla berfirman perihal ciri hamba-hamba-nya yang dicintai-nya,
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Al-furqan: 64).
Dalam bab Fadhilah Qiyamulail, Bukhari meriwayatkan Hadits dengan sanad dari Abdullah bin umar . Dia (Ibnu Umar) menceritakan bahwa pada hidup Nabi saw . apabila seseorang bermimpi sesuatu, ia menceritakan mimpinya kepada beliau Saw. ”Ketika itu saya masih muda dan suka tidur di masjid pada zaman Rasullullah Saw. Saya, berkeinginan sekali mimpi sesuatu dan saya ceritakan mimpi itu kepadanya.
Pada suatu malam saya bermimpi dalam tidurku, seakan-akan ada dua malaikat memegang saya untuk diajak pergi ke api neraka. Ternyata api neraka itu berlubang seperti lubang sumur dan mempunyai dua tanduk. Di dalamnya ada beberapa orang yang saya kenal. Lalu saya membaca do’a, ”Saya berlindung kepada Allah Ta’ala dari api neraka ini!”
Ibnu Umar berkata, ”Lalu saya bertemu dengan malaikat lainnya. Dia berkata kepadaku, ”Mengapa kamu takut?” setelah bangun tidur, kuceritakan mimpi ini kepada Hafsah, lalu Hafsah menceritakannya kepada sullullah Saw.”
Setelah itu, Nabi Saw. bersabda, ”sebaik-baik orang adalah Abdullah sekiranya ia biasa shalat di malam hari.”Setelah mendengar ucapan Nabi seperti itu, ia tidak tidur di malam hari, kecuali sebentar.” (HR.Bukhari)
Maksud Hadits di atas adalah orang yang biasa mengerjakan shalat disebagian malam akan mendapatkan predikat ”sebaik-baik orang atau orang terbaik”. Disebutkan dalam Hadits yang lain bahwa shalat malam mampu mencegah siksa (azab).
Dalam Hadits Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda “seutama-utama shalat (sunnah) sesudah shalat wajib ialah shalat malam.” (HR.Muslim,Abu Dawud, dan Tirmizi).
Dari Ali bin Abu Thalib r.a., ia menginformasikan bahwa pada suatu malam Rasullullah Saw. datang ke rumah Ali dan Fatimah binti Rasullullah Saw., lalu beliau bertanya, ”Apakah kamu telah mengerjakan shalat (malam)?”Jawab Ali, ”Wahai Rasullullah, jiwa kami berada di Tangan Allah Ta’ala, apabila Dia menghendaki membangkitkan kami, Dia pasti membangkitkan kami.”
Setelah mendengar jawaban sepeti itu, tiba-tiba beliau langsung kembali pulang tanpa menjawab sedikit pun. Kemudian Ali r.a. mendengar beliau berpaling sambil memukul pahanya dan berkata, ”Memang watak dasar manusia itu suka membantah!”
Ibnu Bathal berkata, ”Hadits di atas menunjukkan keutamaan qiyamulail dan membangunkan orang-orang tidur, baik dari keluarganya maupun sanak kerabatnya, untuk mengerjakan shalat malam.”
Thabari berkata, ”Sekiranya Nabi Saw. tidak mengetahui betapa besar keutamaan shalat di malam hari, niscaya beliau tidak akan mengganggu putri dan keponakannya di waktu yang memang Allah Ta’ala telah menjadikannya sebagai waktu beristirahat bagi makhluk-Nya. Namun, Nabi Saw. memilihkan waktu itu untuk Fatimah dan Ali, agar mereka bisa mengantongi keutamaan itu.”

SEMOGA BERMANPAAT,,,TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA.....

No comments:

Post a Comment