OBAT PENYAKIT HATI
DALAM
TINJAUAN AL QUR’AN DAN SUNNAH
Rosululloh Saw. adalah seorang nabi yang berhasil memberikan model
dakwah yang tuntas dalam segala aspeknya. Hal ini sesuai degan
kesempurnaan ajaran Islam itu sendiri, di samping kedudukan Rosullloh
Saw. sebagai penutup nabi. Dalam kehidupan sehari-hari beliau
menempatkan diri sebagai teladan tertinggi , sebagai individu yang
berakhlak mulia, sebagai pemimpin keluarga yang bijaksana, sebagai suami
yang adil, sebagai pengajar dan pembina dalam dakwah, serta sebagai
pemimpin politik dan militer yang tangguh.
Dalam perjuangan dakwah, Rosululloh berhasil menegakkan kalimat
tauhid di masyarakat dalam tempo 23 tahun Dimulai dari seorang diri,
hingga berkembang pada kita saat ini. Namun jika tinjau, sebenarnya
dimanakah kemenangan dakwah Rosullloh Saw? Apakah kemenangan dalam
Perang Badar, Fathul Makkah, dan lain-lainnya.
Sayyid Qutb menyatakan, bahwa titik-titik penting kemenangan beliau
bukanlah pada kejadian-kejadian tersebut. Namun justru tatakala
keimanan mulai bersemi di dada para dai dan pengikutnya, keimanan yang
mendalam dan lurus, itulah hakeket kemenangan.
A. Dzikrullah
Obat hati yang pertama adalah dzikir kepada Allah Swt.
Sehubungan dengan urgensi dzikrullah bagi hati, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah mengatakan bahwa dzikir bagi hati ibarat fungsi air bagi
ikan. Apa jadinya kalau ikan dikeluarkan dari air?
Oleh karenanya para aktivis dakwah tidak boleh melewatkan hari-hari,
menit, bahkan detik-detik kehidupannya tanpa aktivitas dzikir.
Sesungguhnya dzikir mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi para
aktivis dakwah untuk membentuk karakter diri yang dekat dengan Allah,
selalu berlindung dan berserah diri secara total kepada-Nya, serta
merasakan adanya pengawasan yang bersifat permanen dari-Nya.
Dengan dzikir, orang-orang arif bijaksana dapat menolak segala bentuk
penyakit dan kerusakan, menyingkap segala kesulitan dan merasakan
kemudahan dalam menerima segala musibah. Melalui dzikir, seseorang dapat
berkomunikasi dengan Allah setiap saat dalam segala keadaan, sambil
berdiri, duduk dan berbaring. Sehingga dengan dzikir seseorang akan
selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Allah hingga pelakunya masuk
dalam kategori ihsan. Dengan demikian, ia beribadah kepada Allah Ta’ala
seakan-akan ia melihat-Nya. Juga mewariskan kepada pelakunya inabah dan
dekat dengan-Nya. Kedekatan seorang hamba kepada Allah sesuai dengan
kadar dzikir kepada-Nya. Begitu juga, jauhnya hamba dari Allah sesuai
dengan kadar kelalaiannya dalam berdzikir kepada-Nya.
Ada tiga hal pokok yang diperlukan dalam mencapai keberhasilan
dakwah, yakni hati yang bersih, soliditas struktur, program yang rapi
dan berkesinambungan. Hati yang bersih merupakan modal utama bagi para
pelaku dakwah. Tanpa ini, tak mungkin tercapai kemenanagn hakiki dalam
dakwah.
Di dalam hati yang bersih inilah keimanan bisa ditumbuhkan dengan
kukuh. Oleh karenanya diperlukan obat yang akan membersihkan hati dari
berbagai macam penyakit yang pasti merusak hati, dan pada saat yang sama
obat tersebut akan mengarahkan suasana hati selalu dalam kondisi bersih
dan suci untuk bisa melaksanakan tugas yang suci pula.
Ketaatan merupakan kelaziman untuk membuat hati hidup, seperti
lazimnya makan dan minum untuk membuat kita tetap hidup. Sebaliknya
kemaksiatan bisa disamakan dengan makanan beracun yang akan merusak
hati. Maka seluruh ketaatan adalah mutlak bagi hidupnya hati. Di sini
kita akan membahas beberapa diantaranya,
mengingat urgensinya. Yaitu:
dzikrullah, tilawah al-Qur’an, istighfar, do’a dan qiyamul lail.
Manfaat dzikir:
- Dzikir adalah makanan pokok bagi hati. Apabila hati kehilangannya, ia seperti tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokok.
- Dzikir dapat mengusir syetan dan menundukkannya.
Dari abu Hurairah ra, rosululloh bersabda:
” Barangsiapa membaca la ilaha ilallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kuli syai’in qadir seratus
kali, maka nilainya sama dengan memerdekakan sepuluh budak, dicatat
baginya seratus kebaikan, dihapus dari seratus dosa, dan dijaga dari
gangguan syetan pada pagi harinya hingga sore harinya. Tidaklah
seseorang datang membawa sesuatu yang lebih utama dari apa yang
dibawanya, kecuali seseorang yang mengerjakan lebih banyak dari itu”.
- Dzikir merupakan obat bagi kerasnya hati.
Seseorang menemui Hasan al Bashri berkata, ”Aku adukan kepada anda tentang kerasnya hati ini.”
Hasan al Bashri menjawab, ”Lunakkan ia dengan dzikir!”
- Dzikir menyebabkan pelakunya diingat Allah Swt, sebagaimana firmannya: ”….maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”( Al Baqarah 152).
- dzikir dapat menghapus dan menghilangkan dosa, karena ia termasuk bentuk kebaikan yang besar.
Sementara, kebaikan itu bisa menghilangkan dosa, sabda Nabi Saw
”Siapa
yang setiap hari dan malam membaca subhanallah wa bi hamdihi seratus
kali, maka terhapuslah dosa-dosanya, meskipun dosa-dosanya itu sepeti
buih di laut” (HR. Bukhari, Muslim & Malik).
- Dzikir merupakan penyebab turunnnya rahmat dan ketenangan, sebagaimanan sabda Nabi:
”Tidaklah suatu kelompok manusia berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan mengkajinya di
antara mereka, melainkan turunlah atas mereka ketenangan, terlindungi
oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan mereka disebut-sebut
Allah dihadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim &
Tirmidzi).
- Dzikir merupakan tanaman syurga.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Jabir dari Nabi Saw:
”Siapa yang membaca Subhanallah al-’azhim wa bihamdihi, berarti ia telah menanam sebuah pohon di syurga”
B. Tilawah Al-Qur’an
Salah satu obat hati yang tak diragukan lagi keefektifannya adalah
membaca dan menghapal Al-Qur’an. Bahkan dzikir yang paling utama ialah
membaca Al-Qur’an, karena ia mencakup semua pengobatan penyakit hati.
Para aktivis dakwah sudah seharusnya dekat dan akrab dengan Al-Qur’an.
Dia dapat dibaca sebagai hiburan dan pembersih hati, di hapal, di fahami
maknanya dan kemudian dilaksanakan kandungannya.
Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt,
”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al Isra’: 82).
Dan firman-Nya:
”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada
kamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
ada) dalam dada” (Yunus: 57).
Penyakit itu pada dasarnya bersumber dari dua hal;
Syubuhat (ketidak jelasan akan kebenaran)
Syahawat (hawa nafsu)
Dan Al Qur’an adalah obat kedua penyakit hati ini.
Al Qur’an mengandung keterangan dan penjelasan yang tegas tentang
kebenaran dan kebatilan. Maka hilanglah penyakit ketidak jelasan dan
digantikan dengan ilmu, tashawwur dan pengetahuan serta
terlihatnyasesuatu dengan semestinya. Sehingga dengan hati yang
menyertainya ia mampu membedakan kebenaran dan kebathilan seperti ia
mampu membedakan antara siang dan malam.
Al Qur’an juga mengandung hikmah dan pelajaran yang baik sebagai
penawar bagi penyakit syahwat. Yaitu nasehat agar hidup zuhud di dunia
dan mengutamakan akherat
C. Istighfar
Obat penyakit hati selanjutnya adalah istighfar, atau permohonan
ampun kepada Allah. Istighfar ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk
mengenali kesalahan, dosa dan kemaksiatan yang telah ia lakukan, untuk
kemudian muncul perasaan menyesal dan tekad kuat untuk tidak mengulangi
kesalahan yang sama yang telah ia lakukan. Kepekaan seseorang dalam
mengenali kondisi hatinya inilah yang akan membuatnya selalu
berhati-hati untuk senantiasa menjaga kesehatannya, jika suatu saat ia
mendapatinya dalam kondisi sakit niscaya ia akan bersegera untuk memohon
ampunan kepada Allah sebagai sebuah usaha ikhtari untuk mengobatinya
agar bisa sehat kembali.
Allah Swt berfirman:
”Dan beristighfarlah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Muzamil: 20).
Aisyah r.a berkata, ”Beruntunglah orang yang mendapati catatan amalnya di penuhi dengan istighfar.”
Ali r.a berkata, ”Tidaklah Allah Ta’ala berkehendak menyiksa seseorang yang senantiasa diilhami istighfar”.
Qatadah berkata, ”Sesungguhnya Al Qur’an telah menunjukkan kepada
kita tentang penyakit dan penawarnya. Adapun penyakit itu adalah dosa,
sedangkan penawarnya adalah istighfar”.
Bagi aktivis dakwah, istighfar bukan saja bermakna penghapusan dosa
dan pembersihan hati, akan tetapi juga sarana penguatan moralitas
(akhlak). Semuanya akan berpengaruh pada kekuatan gerak dakwah. Hal yang
naif, bila para aktivis dakwah merasa aman terhindar diri dari segala
dosa hingga amat jarang melakukan istighfar. Bukankah Rosululloh Saw
bertobat dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali?
D. Do’a
Obat penyakit hati yang keempat adalah do’a.
Do’a merupakan sarana penyembuh penyakit hati yang paling indah.
Dengan berdo’a seseorang akan menghadap kepada Tuhannya untuk merapikan
kekacauan hatinya dan menghilangkan sifat liar, sedih dan letih yang ada
di dalamnya. Bahkan dalam sebuah hadits Rosululloh mengekspresikan
ibadah dengan do’a,
”(Sesungguhnya) do’a adalah ibadah” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dengan berdo’a seseorang mampu menumbuhkan perasaan menghamba, merasa
fakir, menampakkkan kelemahan dan butuh kepada Allah ketika menadahkan
tangan untuk memohon. Dengan berdo’a berarti menundukkan diri kepada
Dzat Yang Mahakuasa mendatangkan semua bentuk kemanfaatan dan menolak
semua bentuk kemudharatan. Karenanya Allah mengaitkan orang yang tidak
mau berdo’a dengan orang yang sombong,
”Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Aku kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam
keadaan hina dina” (Ghafir: 60).
Orang yang melalui hari, berjumpa minggu dan bertemu bulan
tanpa pernah berdo’a maka dengan tindakannya ini dia telah menjadi orang
yang sombong. Bagi para aktivis dakwah, tidak layak menggantungkan diri
kepada kemampuan manajerial dan strategi mereka semata. Sebab
keberhasilan itu datang dari Allah Ta’ala semata. Dan untuk mencapai itu
dibutuhkan sarana, yaitu doa. Tanpa doa hanya akan menjauhkan diri dari
Allah dan dari keberhasilan yang sesungguhnya, bahkan akan memasukkan
kita kedalam golongan orang-orang sombong yang di murkai Allah.
Adab Berdo’a
- Optimis, mantap dan yakin bahwa do’anya pasti terkabul.
Nabi Saw bersabbda:
”Jaganlah seorang kamu berkata apabila berdo’a ’Ya Alla, ampuni
dosaku jika Engkau menghendaki. Ya Allah kasihanilah aku jika Engkau
menghendaki’. ”Tetapi hendaklah ia mantap dan yakin karena sesungguhnya
tidak ada seorang pun yang bisa memaksaNya”. (HR. Bukhari &
Muslim).
Sufyan bin Unayah berkata, ”Janganlah kalian enggan berdo’a gara-gara
kelemahan diri, sebab Allah Azza wa Jalla telah mengabulkan permohonan
(do’a) sejelek-jelek makhluk –Nya, yaitu Iblis—semoga Allah
melaknatnya—ketika iblis berdo’a,”
Wahai Tuhanku, tangguhkan (umur)ku sampai hari mereka dibangkitkan” (Al Hijr: 36).
- Serius dan mengulang-ulang sebanyak tiga kali.
Ibnu Mas’ud berkata:
”Apabila Rosululloh Saw berdo’a, beliau biasa mengulang do’anya
hingga tiga kali. Apabila beliau memohon, maka beliau memohon hingga
tiga kali” (HR. abu Dawud).
- Bersabar atau tidak tergesa-gesa berharap untuk di kabulkan
Dalam Hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa Rosululloh Saw bersabda,
”Akan
dikabulkan do’a seseorang di antara kamu selama ia tidak tergesa-gesa
untuk dikabulkan dengan mengatakan, ’saya telah berdo’a, tetapi do’a
saya belum dikabulkan’ (HR. Bukhari & Muslim).
- memilih waktu-waktu yang mulia(makbul), seperti hari Arafah, bulan Romadhon, hari Jum’at dan waktu sahur. Nabi Saw bersabda:
”Pada setiap malam Alllah Ta’ala turun ke langit dunia ketika
sepertiga malam terakhir yang tersisa, seraya Dia berfirman, ”Siapakah
yang berdo’a kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan do’anya; siapakah yang
memohon kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan permohonananya; dan siapakah
yang meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Kuampuni dosa-dosanya” (HR.
Bukhari & Muslim).
- Memanfaatkan situasi-situasi yang mulia atau yang baik, seperti
ketika berperang di jalan Allah sedang berkecambuk, atau ketika turun
hujan. Allah Ta’ala berfirman:
”Dan Dialah Yang menurunkan hujan —sesudah mereka berputus asa—dan menyebarkan rahmat-Nya” (Asy Syura: 28).
- Merendahkan suara antara keras dan lirih; merendahkan diri dan
menampakkan bahwa dirinya benar-benar butuh sekali(kepada pengabulan
do’a). Allah Swt berfirman:
”Dan janganlah kamu nengeraskan suaramu dalam sholat, dan janganlah pula merendahkannya” (Al Isra’: 110).
- Memulai do’a dengan memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya dengan
menyebut nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, kemudian bershalawat kepada
nabi-Nya dan ditutup dengan hamdalah. Sabda Nabi Saw:
”Apabila seseorang diantara kamu mengerjakan shalat, maka
hendaklah ia memulai dengan memuji Rabb-Nya Azza wa jalla dan
menyanjung-Nya. Kemudian berselawat kepada Nabi Saw. Setelah itu
silahkan berdo’a sesuai kehendaknya” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan
Nas’i).
- Mengkonsumsi makanan yang halal dan sehat sesuai dengan sabda Nabi:
”Sesungguhnya Allah Mahabaik. Dia tidak menerima selain yang baik,
dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang beriman seperti
yang diperintahkan kepada Rosul, seraya Dia berfirman, ”Wahai para
Rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal-amal
yang saleh” (Al Mukminun: 51).
E. Qiyamul lail
Inilah sarana tazkiyah yang harus dilakukan oleh para aktivis dakwah.
Bangun malam dan melaksanakan shalat tahajud akan membersihkan hati dan
jiwa dari berbagai macam kotoran/penyakit. Kebersihan hati akan
berdampak pada ketenangan jiwa dan bersihnya pikiran, sehingga dakwah
akan bisa dilaksanakan secara optimal dan hasilnya bisa diharapkan.
Rosul Saw dan para sahabat menjadikan qiyamulail sebagai sarana tazkiyah
yang menjadi pondasi bagi kebaikan amal dan langkah dakwah mereka.
Sabda Nabi Saw:
”Seutama-utamanya puasa sesudah puasa Romadhon ialah puasa sunah
pada bulan Muharram: seutama-utamanya shalat sesudah shalat fardhu ialah
shalat sunah di waktu malam” (HR. Muslim).
Bahkan jika dilihat dari ayat-ayat yang turun di Makkah, ternyata
qiyamulail di letakkan pada posisi utama. Al Muzamil adalah surat ketiga
yang turun, setelah Al Alaq dan Al Mudatsir. Di dalamnya ada perintah
yang amat tegas untuk menegakkan shalat malam sebagai persiapan ruhiyah
menghadapi realitas medan dakwah. Allah Swt berfirman:
”Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di
malam hari, (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua sedikit
atau lebih dari seperdua itu” (Al Muzamil: 1-3).
Dengan turunnya ayat ini, shalat malam hukumnya wajib bagi kaum
muslimin saat itu. Dan teryata qiyamulail menjadi bekalan yang membentuk
sahabat menjadi pribadi-pribadi tangguh yang akan menghadapi segala
resiko dakwah. Allah Swt menyebutkan dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat (qaulan tsaqilan)” (Al Muzamil: 5), yang menunjukkan tugas-tugas berat mendatang harus di hadapi dengan persiapan matang.
Dalam kehidupan keseharian, tentu kita bisa menyaksikan betapa
banyaknya permasalahan yang dihadapi manusia hingga ada diantara mereka
yang sampai stres, depresi dan tekanan batin lainnya. Sebenarnya, terapi
penyakit tersebut sangat mudah dan bisa dikerjakan oleh siapapun.
Lakukan shalat malam secara teratur, dan adakan dialog dengan Allah
Ta’ala tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi, serta mintalah
jalan keluar kepada-Nya. Jadi, qiyamulai merupakan kebutuhan yang akan
menghidupkan kesadaran ruhiyah kita untuk mengontrol gerakan-gerakan
tubuh, perkataan akan menjadi berbobot sehingga lebih mudah difahami dan
diresapi oleh mad’u serta stabilitas moral dan emosional pun akan lebih
terjaga. Bahkan Allah menjanjikan terkabulnya do’a yang di munajatkan
saat-saat hening malam.
Keutamaan Qiyamulail
Allah Azza Wa Jalla berfirman,
‘Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa
kepada tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan
sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”
(As-Sajdah: 16)
Kemudian diikuti dengan firman-nya,
”Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata,
sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
(As-Sajdah: 17)
Allah Ta’ala berfirman dalam menggambarkan orang-orang yang berbuat kebaikan,
”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu-waktu
sahur (akhir-akhir malam) mereka memohon ampunan (kepada Allah)”
(Adz-Dzariyat: 17-18)
Telah diriwayatkan dari Qatadah, Mujahid, dan lainnya bahwa maksud
ayat di atas ialah ”mereka biasa tidak tidur di malam hari hingga datang
waktu shubuh.”
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., ia berpendapat, ”Maksud ayat
di atas ialah tidaklah malam itu melewati mereka, melainkan mereka
menggunakan sebagian malam itu untuk beribadah kepada allah.”
Allah Ta’ala berfirman,
”Apakah kamu, hai orang musyrik , yang lebih beruntung ataukah
orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”
(Az-Zumar: 9)
Syaikhul Islam, Ibnu Tamiyah berpendapat, ”Kata
al-qunut itu
berarti menjalankan ketaatan secara terus-menerus. Apabila seseorang
shalat, berdiri,rukuk,dan sujudnya lama, maka ia dinamakan
qanitun.”
Allah Azza wa Jalla berfirman perihal ciri hamba-hamba-nya yang dicintai-nya,
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Al-furqan: 64).
Dalam bab
Fadhilah Qiyamulail, Bukhari meriwayatkan Hadits
dengan sanad dari Abdullah bin umar . Dia (Ibnu Umar) menceritakan bahwa
pada hidup Nabi saw . apabila seseorang bermimpi sesuatu, ia
menceritakan mimpinya kepada beliau Saw. ”Ketika itu saya masih muda dan
suka tidur di masjid pada zaman Rasullullah Saw. Saya, berkeinginan
sekali mimpi sesuatu dan saya ceritakan mimpi itu kepadanya.
Pada suatu malam saya bermimpi dalam tidurku, seakan-akan ada dua
malaikat memegang saya untuk diajak pergi ke api neraka. Ternyata api
neraka itu berlubang seperti lubang sumur dan mempunyai dua tanduk. Di
dalamnya ada beberapa orang yang saya kenal. Lalu saya membaca do’a,
”Saya berlindung kepada Allah Ta’ala dari api neraka ini!”
Ibnu Umar berkata, ”Lalu saya bertemu dengan malaikat lainnya. Dia
berkata kepadaku, ”Mengapa kamu takut?” setelah bangun tidur,
kuceritakan mimpi ini kepada Hafsah, lalu Hafsah menceritakannya kepada
sullullah Saw.”
Setelah itu, Nabi Saw. bersabda, ”sebaik-baik orang adalah Abdullah
sekiranya ia biasa shalat di malam hari.”Setelah mendengar ucapan Nabi
seperti itu, ia tidak tidur di malam hari, kecuali sebentar.”
(HR.Bukhari)
Maksud Hadits di atas adalah orang yang biasa mengerjakan shalat
disebagian malam akan mendapatkan predikat ”sebaik-baik orang atau orang
terbaik”. Disebutkan dalam Hadits yang lain bahwa shalat malam mampu
mencegah siksa (azab).
Dalam Hadits Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda
“seutama-utama shalat (sunnah) sesudah shalat wajib ialah shalat malam.” (HR.Muslim,Abu Dawud, dan Tirmizi).
Dari Ali bin Abu Thalib r.a., ia menginformasikan bahwa pada suatu
malam Rasullullah Saw. datang ke rumah Ali dan Fatimah binti Rasullullah
Saw., lalu beliau bertanya,
”Apakah kamu telah mengerjakan shalat
(malam)?”Jawab Ali, ”Wahai Rasullullah, jiwa kami berada di Tangan Allah
Ta’ala, apabila Dia menghendaki membangkitkan kami, Dia pasti
membangkitkan kami.”
Setelah mendengar jawaban sepeti itu, tiba-tiba beliau langsung
kembali pulang tanpa menjawab sedikit pun. Kemudian Ali r.a. mendengar
beliau berpaling sambil memukul pahanya dan berkata
, ”Memang watak dasar manusia itu suka membantah!”
Ibnu Bathal berkata, ”Hadits di atas menunjukkan keutamaan qiyamulail
dan membangunkan orang-orang tidur, baik dari keluarganya maupun sanak
kerabatnya, untuk mengerjakan shalat malam.”
Thabari berkata, ”Sekiranya Nabi Saw. tidak mengetahui betapa besar
keutamaan shalat di malam hari, niscaya beliau tidak akan mengganggu
putri dan keponakannya di waktu yang memang Allah Ta’ala telah
menjadikannya sebagai waktu beristirahat bagi makhluk-Nya. Namun, Nabi
Saw. memilihkan waktu itu untuk Fatimah dan Ali, agar mereka bisa
mengantongi keutamaan itu.”
SEMOGA BERMANPAAT,,,TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA.....